Filosofi Tebar Benih

Di saat seperti ini, sudah sepatutnya kita mengingat kembali pembagian peran antara manusia dan penciptanya. Terutama terkait keinginan hamba dan kehendak Raja. Agar kita tak mudah gampang sakit hati. Lebih-lebih, agar kita tidak merasa paling hebat.

~~

Terpikirkan kah oleh kita? bahwa banyak sekali anak muda Indonesia yang bermimpi besar untuk bangsanya. Tidak jarang mereka meluangkan waktu dan tenaga demi perubahan kecil maupun besar. Juga tidak sedikit, anak muda Indonesia yang ingin merdeka dari belenggu hidup sendiri alias menjomblo. Apalagi ada adik-adik kita yang sedang mempersiapkan diri untuk bersaing eksistensi di masa depan dunia global.

Semua itu akan terasa sangat menyedihkan jika nyatanya masa depan berkata lain. Yang Indonesia tetaplah biasa saja seperti sekarang. Yang sendiri ternyata masih terus-terusan sendiri. Yang berusaha bersaing kerap saja berujung kekalahan. Namun semua itu akan terasa indah jika kita paham filosofi tebar benih.

Sebenarnya, cara berpikir ini sudah banyak diketahui orang. Tapi terkadang masih saja kita suka lupa akan itu. Jadi saya pikir tidak ada salahnya jika dituliskan kembali sebagai pengingat.

Saya terinspirasi dari Cak Nun melalui tulisannya–Menyampaikan Benih Pada Tanah. Peka akan mimpi dan aksi anak muda Indonesia membuat Cak Nun menuangkan pemikirannya. Kurang lebih dia menyampaikan bahwa tugas manusia adalah menyampaikan benih ke tanah dan Tuhan lah yang menumbuhkan dan membuahkan. Dan seandainya tidak terjadi penumbuhan dan pembuahan, kita tidak perlu kecewa, karena kewajiban kita adalah menjalani dengan tekun dan setia. Keberhasilan justru terletak pada pekerjaan menyampaikan benih kepada tanah itu, bukan pada berhasilnya tetanaman itu berbuah. Dan kalau pohon-pohon itu tidak berbuah atau bahkan tidak tumbuh, jangan katakan bahwa Tuhan telah gagal.

Kata Cak Nun, Tuhan mustahil gagal. Maha Eksistensi Allah tidak punya cacat. Ia Maha Merdeka dari kekurangan dan kelemahan. Dan tidak bisa dikotori oleh kegagalan. Yang terjadi adalah Tuhan berkenan atau tidak. Berkehendak atau tidak. Mengabulkan atau tidak. Menolong atau tidak. Dan andaikan yang terjadi adalah tidak, tidak, dan tidak, maka tidak ada perhitungan apapun dari pihak manusia atas-Nya. Terserah-serah Allah, karena Ia yang menciptakan, Ia yang menguasai dan Ia yang berhak mutlak atas segala kehendak.

Suka sekali saya dengan tulisan tiga tahun lalu itu. Setidaknya sampai sekarang rangkaian kata Cak Nun masih sangat relevan. Apalagi memang begitu yang diajarkan oleh agama. Dengan kata-kata terkenalnya–Ikhtiar dan Tawakal.

~~

Nah bagi mereka yang sedang berjuang melepaskan belenggu hidup sendiri maka dapat dikatakan adalah tugasmu hanya mengutarakan. Bukan kecewa apalagi memaksa. Diterima atau tidak, itu bukan tugasmu lagi. Karena yang terpenting tugasmu telah selesai. Selebihnya biar Dia yang menentukan.

Di akhir menulis saya baru sadar, ternyata tulisan ini dibuat untuk menghibur diri sendiri.

Leave a Reply