Debu Metropolitan

Seminggu terakhir saya coba menahan diri. Terutama untuk tidak mengeluh. Apalagi mengutuk. Tentu ini cobaan berat. Sebulan lalu saya berharap Kampoeng Jakarta bisa segera diguyur hujan. Kalau bisa yang deras supaya debu-debu metropolitan yang menebal segera berkurang. Juga supaya langit kembali segar dan sejuk. Cukuplah bulan-bulan lalu langit dan hati ini penuh kelabu. Di tahun spesial yang baru ini, jangan sampai.

Ops Sayangnya di pergantian tahun, kampoeng ini menjadi kelewat ‘bahagia’. Hujan betah turun sejak Selasa sore hingga tahun depan. Saya tentu menikmati, dari dalam rumah, sembari evaluasi diri lalu tidur dan bermimpi. Tak sadar, bahwa akan ada tamu yang segera datang. Ya, banjir ibukota. Yang akibatnya sistem transportasi hampir lumpuh. Juga sistem listrik terganggu. Sayangnya, sampai harus merenggut nyawa.

Sekali lagi saya terus mengingatkan pribadi untuk menahan diri. Tidak boleh ada kata terucap untuk menyalahkan hujan. Hujan itu berkah! airnya diturunkan langsung dari langit, atas izin Yang Maha Pengasih. Sekalipun orang-orang bilang ini azab, tetap saja Dialah Yang Maha Penyayang.

Semua dari-Nya adalah kebaikan, yang memunculkan keburukan adalah kita. Sekalipun ada keburukan oleh kita, Dia lah yang kemudian menyisipkan kebaikan. Itupun kalau kita menyadari.

Saya jadi ingat cerita dari seorang jurnalis di Amerika sana. Sebut saja Johny Harris, karena memang itulah namanya. Dia tinggal di Kota Oregon, dekat kampung ibukota Amerika. Tidak jauh dari sana ada pepohonan tinggi menjulang, berkumpul bewarna hijau gelap. Di atas bukit itu, sebuah Hutan Oregon dikenal. Suatu ketika, ada anak kecil bermain petasan di sekitar hutan. Tidak sengaja suarnya justru jadi membakar dedaunan yang kemudian membakar pepohonan yang kemudian membakar hampir seluruh bagian hutannya. Musim yang panas pun memperparah. Berita nasional tidak berhenti-henti meliputnya. Penduduk sana pun jadi sedih, hutan kesayangannya kini terlahap sebagian oleh api. Kini hutan tersebut seakan memiliki ‘pitak’.

Dua tahun kemudian, Johny Harris memutuskan mengunjungi kembali hutan yang telah terbakar itu. Sesampainya di sana, justru dia dikejutkan dengan apa yang dia lihat. Hutan di sini justru semakin banyak kehidupan! berbeda dengan benaknya yang mengira hutan ini telah mati.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, dia kini sadar. Kebakaran hutan itu memiliki sisi positifnya, terutama untuk ekosistem hutan itu sendiri. Simpelnya jadi begini, saat hutan itu lebat alias dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi nan besar maka sinar matahari akan susah menembus hingga ke dalam hutan. Alhasil beberapa hewan tidak betah hidup di sana, apalagi tetumbuhan kecil. Lalu kebakaran ini terjadi, beberapa pohon tinggi sudah gosong menjadi abu. Beberapa masih berdiri, tapi dalamnya sudah kopong. Kondisi inilah yang membuat jadi banyak kehidupan. kenapa? karena kini sinar matahari bisa masuk sampai ke permukaan alhasil tumbuh tetumbuhan yang lebih kecil. Pepohonan yang dalamnya rapuh kini menjadi rumah tinggal bagi hewan-hewan. Keberadaan tumbuhan dan hewan baru ini pun jadi mengundang organisme lainnya. Makanya sekarang hutan itu menjadi lebih hidup. Itulah yang dianggap baik oleh Johny Harris dan tentu membuat dia semakin senang sekarang.

Begitulah contoh, “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Sekarang, ku lagi memikirkan. Ada tidak kebaikan yang disisipkan dari berkah banjir Kampoeng Jakarta kemarin? sepertinya masih harus lihat nanti. Walaupun begitu, saya sudah dapat satu duluan. Banjir kemarin memberikan momen istirahat bagi orang yang telah mati-matian berjuang untuk menjadi debu metropolitan. ehe.

Leave a Reply