Mentari Nias 9 – Langkah Kaki Seorang Lelaki

Mentari pagi menyembulkan sinar di balik barisan bukit Gidö. Kehidupan pesantren tak luput dari yang namanya gotong royong. Para santri sudah berlalu-lalang, sibuk membersihkan halaman masjid. Ada yang masih berpakaian tidur adapula yang sudah rapih dengan koko beserta kopiahnya. Sang Ustadz sudah pergi sejak subuh, sementara sarapan mie goreng ala Nias bersama Alim menjadi catatan terakhir perjalanan kami di pesantren ini.

~~

Pulau Nias sangat akur dalam keberagaman agama, hal yang unik bin ajaib bagi Indonesia. Banyak cerita yang dikisahkan Alim tentang keajaiban itu. Di sini ada santri yang didaftarkan ayahnya yang non-muslim. Sang Ayah sadar betul bahwa pesantren ini adalah sekolah berbasis keislaman. Tapi dia tidak peduli itu. Sang ayah hanya menginginkan sang buah hati nya dididik menjadi orang yang baik dan santun. Kini santri tersebut sudah menjadi seorang muslim dan tetap kerap berlibur ke rumahnya. Ajaibnya sang ayah selalu mengingatkan anaknya untuk sholat tepat waktu walau dia tetap memeluk kepercayaan lain.

Buat mereka, ikatan kekeluargaan jauh lebih penting dibanding ikatan agama. Jika ada konflik SARA, sentimen agama tidak muncul. Yang dominan adalah sentimen kekeluargaan. Jadi wajar saja jika kemana-kemana semua orang Nias memperkenalkan nama seiringan dengan nama keluarganya.

~~

Di Pulau Nias ada sebuah daerah yang sangat terkenal akan keramahannya dan juga akan kekanibalannya. Daerah tersebut jugalah yang akan menjadi salah satu destinasi hari kedua kami, yaitu Gomo. Berhubung tiga sekolah yang kami kunjungi—SMAN 1 Gidö, SMAN 1 Idanogawö, dan SMAN 1 Gomo—letaknya berjauhan, terpaksa strategi splitting dilakukan. Rama dan Caca akan pergi ke Gidö dan Idanogawö yang relatif dekat dari pesantren, dan aku bersama bang Jek pergi ke Gomo yang lokasinya jauh ke selatan.

Hari kedua ini seharusnya menjadi hari yang paling simpel. Hanya tiga sekolah yang akan dikunjungi, Semuanya bisa balik ke kota sebelum Ashar untuk istirahat sebelum besok berangkat lagi ke arah utara. Namun takdir mengatakan lain.

“Lurus terus lewat jalan ini, nanti ketemu pertigaan, belok kanan ke arah Gomo, terus lurus lagi nanti SMA nya ada di ujung jalan” Kata Rama sesaat setelah menelpon pihak sekolah. See? Simpel. Digas lah motor matic ini sama Bang Jek, kami berangkat menuju ke arah selatan.

~~

Sepanjang perjalanan, pemandangan asli Pulau Nias mulai menampakkan diri. Perbukitan di pesisir mulai digantikan dengan ladang pertanian yang merabah luas. Sungai berbatu mengalir di bawah jembatan-jembatan. Bentangan menara sutet raksasa mengiringi jalanan aspal yang mulus. Hingga akhirnya bertemu pula dengan pertigaan yang mengatakan Siefa Banoa dan Gomo belok kanan. Oke ini pertigaannya, pikir kami.

Kawah Kecil
Sungai tak Berjembatan

Sepuluh menit setelah pertigaan tadi, semuanya terasa asing. Jalanan aspal mulai berganti dengan jalanan berbatu. Deretan rumah-rumah mulai jarang dan digantikan dengan gubuk-gubuk kayu. Lurus, terus, semua orang menjawab serupa tiap kami tanya di mana itu Gomo. Firasat mulai tidak baik di saat kini kami harus menyebrangi sungai, tanpa jembatan, yang dalamnya sepertiga dengkul. Kanan kiri hanya pepohonan, jalanan mulai curam dan berlumpur. Tapi tetap, semua orang memberi jawaban yang sama—gomo di depan sana.

Puncak ketidakjelasan ini berakhir di saat kami mendapatkan jawaban yang berbeda dari seorang anak kepala desa yang kebetulan kantornya berdiri sendiri di tengah pepohonan belantara.

Kata si anak kades “Gomo masih jauh lurus terus, 3 jam perjalanan lagi, oh itu di depan jalanannya berlumpur banget, motor matic gini mah gak akan kuat, tapi kalo dipaksain bisa nanti ditemenin, tapi ya saya minta dibayar 300 ribu.”

Tiga ratus ribu?! Mana bawa uang sebanyak itu. Kami yang sebenarnya ragu untuk mengeluarkan uang sepeserpun mulai menawar-nawar. Dia malah menjawab “300 ribu sudah murah, banyak orang jahat disana, masih mending kalau cuma motor kalian yang diambil, bagaimana kalau nyawa ikut diambil ?.”

Hey-Hey?!

“Kalau tidak mau lurus, ada jalan lain keliling pesisir, kalian balik lagi ke bawah terus belok kanan, tapi jauh sekitaran 8 jam baru bisa sampai Gomo”, lanjut katanya.

Sebenarnya ini lose-lose solution, kami kalah dalam segala hal. Korbankan waktu, uang, atau nyawa. Saat itu jam sudah mengarah ke angka 10. Sekolah hanya bisa dikunjungi sampai siang sebelum para muridnya pada pulang. Akhirnya kami putuskan untuk balik pasrah ke bawah.

Sebelum benar-benar pasrah, dicobalah kami menelfon pihak sekolah lagi dan menceritakan kami sedang di daerah Siefa Banoa. Namun bukannya kami diarahkan, kami malah dibentak habis-habisan. Pertigaan yang kami beloki itu salah, seharusnya masih harus terus ke selatan dulu sampai ada Tugu Lahusa baru belok kanan. Dia menyakinkan kami untuk tetap datang ke sekolah, jika ngebut bisa sampai dalam 2 jam.

~~

Kayuh Terus Demi Pendidikan
Nias Tanah Subur

Dalam kondisi yang berperang melawan waktu, masih saja harus terjadi hal-hal sial. Mulai dari laba-laba besar di helm bang Jek yang membuat momen histeris sekampung, hingga ban bocor yang lama servisnya satu jam. Memang akhirnya kami sampai juga di SMA yang luar biasa jauh ini, namun puncak kesialan meletus setelah kami mengetahui bahwa semua murid SMAN 1 Gomo sudah dibubarkan. Dengan raga yang lelah kami hanya bisa tersenyum menerima segalanya.

Tapi cerita belum berakhir, karena sehabis badai akan selalu ada pelangi. Guru-guru SMAN 1 Gomo mulai keluar satu persatu. Kaget kepada aku dan bang Jek yang menggunakan almamater ITB, mereka jadi mengajak ngobrol tentang pendidikan, dan juga khusyuk mendengarkan cerita kesesatnya kami tadi.

Daripada bensin dan tenaga anak ITB ini sia-sia, guru di sana mengajak kami untuk ke SMAN 2 Gomo yang jaraknya 3 km dari situ dan merupakan sekolah siang. Alhamdulillah, tawaran yang sangat melegakan. Tak hanya menjadikan usaha ini jadi berfaedah, sepanjang perjalanan banyak pemandangan menarik terlihat, seperti traktor-traktor yang terguling di sungai, pabrik penambangan pasir, dan rumah khas Nias yang dibangun dengan struktur baja. SMAN 2 Gomo juga berbeda dari semua sekolah yang direncakan akan dikunjungi, karena ternyata gedung sekolahnya masih menumpang di gedung SD yang masuk sekolah pagi dan gedung di sini tidak ada listriknya! Alhasil, kami presentasi dengan layar laptop 14 inch kepada murid yang juga sebenarnya tidak banyak.

Kota Gomo
SMAN 2 Gomo Tanpa Listrik
Sejuta Ekspresi

Selepas presentasi, pihak SMAN 2 Gomo memberanikan diri untuk menyampaikan bahwa tidak ada kepercayaan diri dari para guru dalam mendaftarkan siswa sekolahnya untuk ikut SBMPTN. Keterbatasan fasilitas pendidikan seperti akses jalan, gedung, laboratorium, maupun perpustakaan menghambat optimisme para guru untuk melihat siswa-siswanya dapat berkuliah. Pemikiran seperti ini yang selalu terlintas oleh orang-orang yang juga kontra dengan Ekspedisi Diseminasi Khusus. Oleh karena itu sebenarnya aku pribadi lebih suka berkunjung ke sekolah yang memang berpotensial dan realistis.

~~

Senja Gunungsitoli

Senja memang indah, ia kerap mengantarkanku untuk berpikir tentang betapa menyenangkannya jika langit terus berwarna jingga. Membawakan ketenangan. Menutup seharian.

Rama dan Caca sudah sampai di basecamp sejak ashar tadi, sedangkan kami harus telat berjam-jam dulu. Tubuh ini langsung menjatuhkan diri dengan sendirinya, biarkan aku istirahat teriaknya. Malam tiba, kini gilirannya kami diajak ke rumah anak walikota Kota Gunungsitoli yang kebetulan anggota dari Komunitas Rumah Kita. Sambil makan nasi goreng yang ada kuahnya, kami bersuka ria menceritakan segalanya pengalaman hari tadi.

Dari awalnya teman-teman Komunitas Rumah Kita tertawa riang, tiba-tiba semua berubah jadi beraut wajah tegang dan kaget.

“Fayed dan Bang Jek abis dari Siefa Banoa?! Di sana gak kenapa-kenapa?!” Sontak tanya teman-teman KRK sambil lanjut menjelaskan sebuah hal.

“Sebenarnya kami semua tidak pernah main ke Gomo, karena jujur kami takut. Di sana daerahnya masih primitif. Pembunuhan, kanibalisme tuh masih hal biasa. Parahnya lagi, kalian ke Siefa Banoa. Tau gak kalian hutan di sana sebenarnya adalah hutan tempat buronan penjara kabur dan ngumpet. Wajar saja kalau anak kades minta 300 ribu, karena memang kalau lagi apes, para buronan ini suka turun ke jalanan untuk merampok orang-orang.”

Well…, berarti syukur Alhamdulillah kami masih bisa hidup sampai malam itu.

Talifuso Nias Kini Tak Lagi Sendirian

~~

Terlepas dari semua fakta keberuntungan kami selamat dan nasi goreng yang super lezat. Ada sebuah hal lain yang sangat menyimpulkan hari ini penuh dengan nikmat. Kegiatan ekspedisi kami telah menginspirasi teman-teman dari KRK untuk mengadakan sebuah festival pendidikan di Pulau Nias. Mereka dengan semangatnya mengemukakan ide satu persatu, mengundang alumni-alumni kuliah lah, mengadakan konser band lah, membuat stand universitas lah, dan bahkan menghadirkan gubernur.

Mereka telah tersadarkan bahwa kewajiban orang yang terdidik adalah untuk mendidik.
Senyumku melebar…

Inilah yang ada di dalam hati.
Terinspirasi untuk Menginspirasi.
Di depan diri kamu sedang menari.
Bukti asli telah berapi di malam sepi.
Menguatkan langkah kaki seorang lelaki.
Untuk terus merealisasi sebuah mimpi.

Leave a Reply