Penantian Sabar

Islam, Random

Di tengah malam kemarin saya terpikirkan sebuah kisah. Sayangnya kisah itu bukan dari buku, bukan juga dari buah bibir masyarakat. Kisahnya tiba-tiba hadir saja di pikiran. Khayalan diri memang suka melangbuana kemana-mana. Seperti tak peduli sekarang sedang pandemik. Ops gak lucu. Yang pasti, kisah ini tentu bukanlah kisah nyata.

~~

Alkisah, di sebuah masjid ternama di Kota Bandung, saya dan teman saya yang bernama Aulia baru saja Sholat Magrib. Masjid ini kebetulan tidak memiliki satu pilarpun di dalamnya, alhasil kami harus cari tempat bersandar di pinggiran dinding. Kami ke luar dan duduk bersandar di teras belakang. Walaupun masih awal malam, sejuknya lantai terasa seperti sudah dingin tengah malam.

Saya duduk duluan dan segera buka buku, ada bacaan yang nanggung untuk diselesaikan. Teman saya ingin langsung tidur sejenak karena sudah lelah banget. Tapi akhirnya malah memutuskan untuk sholat sunnah dulu. Sebelum takbir, dia berpesan ke saya, “tolong bangunkan nanti kalau ketiduran.”

Dua-tiga lembar buku saya baca, teman saya kok masih belum selesai sholatnya. Saya belum begitu menghiraukan. Lima-enam lembar terbaca, saya jadi semakin keheranan. Saya tengok lah teman saya ini, dia lagi duduk tahiyat akhir, badannya miring, telunjuknya kaku, matanya terpejam, tapi bibirnya tidak terlihat bergerak. Kaku benar-benar kaku. Saya perhatikan dadanya, tidak ada pernafasan. Saya perhatikan lebih detail lagi, pipi dia basah karena air mata, tapi betul tidak ada pergerakan. Segera saya goncangkan badannya panik. Memaksa dia untuk bangun atau sekedar menghela nafas atau sedikit membuka mata. Seluruh tubuh saya dingin, kaget menyadari apa yang terjadi. Saya segera minta tolong orang sekitar, kami coba baringkan badannya dan berusaha membangunkan lagi. Masih tidak ada respon, sampai saya menangis pasrah di depannya.

“MasyaAllah” tetiba terucap lembut kata itu dari orang di depan saya. Aulia bangun! Dia sadarkan diri. Bernafas lemas. Membuka matanya lagi. Saya bingung bukan kepayang, termasuk orang-orang yang tadi telah membantu.

Beberapa jam setelah kejadian, hidup kami kembali ke seperti semula. Orang-orang memang menyimpan rasa penasaran mendalam, termasuk saya. Tapi mau bagaimanapun juga, kita tidak bisa memaksakan apa-apa. Sebab, Aulia lebih memilih tersenyum diam saat ditanya-tanya. Malam itu, dia segera mengajak saya untuk pulang ke kontrakan, masih dengan dirinya yang terdiam dan lelah.

Singkat cerita, besok subuhnya, dia akhirnya mau buka mulut. Mulai bercerita apa yang terjadi kemarin, walaupun masih suka terbelit-belit. Ceritanya bikin ragu untuk dipercaya, tapi ada benarnya juga.

Jadi ya, Aulia bisa dibilang baru saja mati suri. Ruhnya kembali ke tubuhnya setelah diajak berkelana ke dunia akhirat. Dia baru saja melihat bagaimana ruh-ruh manusia digiring kasar bersama makhluk-makhluk raksasa. Tidak ada yang terlihat bercahaya satu pun. Tertunduk sendu para ruhnya. Tidak berlama di sana, kemudian dia dibawa ke tempat lain. Di mana dia bisa melihat para ruh tampil bercahaya. Sebagian ruh ada yang terdiam haru. Sebagian ruh ada yang. berbahagia satu sama lain. Ucapan salam terdengar di mana-mana. Segalanya terasa sejuk dan harum. Pemandangan seperti ini membuat Aulia mematung dan mengangis di tempat.

Dia lalu bertanya kepada makhluk raksasa di sebelahnya, “Bagaimana caranya saya bisa berada di sana?” Dijawab singkat olehnya “Kamu harus menghadapi kematian terlebih dahulu.”

Seketika, setelah pertanyaan itu terjawab, pandangan di depannya menjadi menjauh sejauh-jauhnya. Dan dirinya tertarik ke belakang sejauh-jauhnya. Dari tempat yang terang benderang, dia kembali ke tempat yang gelap nan hampa. Hingga terdengar suara tangis di sekitarnya. Lalu perlahan ada cahaya masuk di depan pandangannya, seketika itu dia sadar, dirinya telah kembali ke dunia. Dan suara tangis yang ada, tidak lain berasal dari temannya, Fayed.

Ceritanya selesai. Sedangkan saya masih tertegun. Ada apa ini?

~~

Waktu terus bergulir dan musim kian berganti. Saya masih suka terngiang-ngiang dengan apa yang telah diceritakan oleh Aulia. Tapi saya lebih memikirkan dengan apa yang tejadi dengan Aulia sekarang. Dia telah berubah semenjak kejadian itu. Hidupnya kini seperti setengah-setengah. Kuliah magisternya suka ditinggalkan. Hidup sosialnya jadi berkurang. Makan minum secukupnya. Di tengah malam, dia semakin sering merenung sendiri saja.

Saya selalu bertanya, apa yang sedang di pikirannya. Dia menjawab pelan.. “Saya berharap segera bertemu kematian Yed…”

Huh, tiada berubah-ubahnya jawaban dia dan tiada henti-hentinya saya mengingatkan dia. Mengharapkan kematian itu tidak baik, ucap saya. Bahkan Rasul mengajarkannya dengan doa yang baik di Hadist berikut:

“Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya. Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)

Dia selalu membalas dengan senyuman dan terima kasih. Tapi kali ini dia mengakhiri dengan kalimat tambahan “Seandainya imanku kuat maka kan ku kejar pandanganku itu dengan penuh kesadaran, seandainya imanku lemah maka kan ku pilih jalan tercepat untuk segera mendapatkannya.”

“Maka tolong, jadilah temanku yang senantiasa menyadarkan, karena tentu kamupun tak akan sabar jika telah melihatnya.”

selesai

Leave a Reply