Gegara McKinsey Award

Teman saya punya bahan ketawaan baru. Bukan karena lucu, tapi lebih ke heran dan tidak biasa aja. Saat dikasih unjuk ke saya, saya pun juga ikutan nyengir sendiri. Wajar sih, kita orang Indonesia memang jarang terpapar yang kayak begini.

Saya lagi ngomongin McKinsey 2020 Achievment Award. Sebagai jebolan didikan McKinsey, teman saya otomatis jadi terpapar dengan award ini. Tapi pas baca detailnya, jadilah bahan ketawaan baru. Coba lihat sendiri di sini: https://www.mckinsey.com/careers/mckinsey-achievement-awards/overview atau lihat sendiri foto di bawah ini, terutama yang saya garis bawahi merah.

Sebelumnya maaf-maaf aja. Bukan bermaksud merendahkan atau gimana, tapi cara berpikir saya tidak nangkep aja. Ternyata selama ini ada istilah tentang gender yang sekomplex itu. Biasanya, saya pikir yasudah artinya jenis kelamin dan yang hanya ada dua itu. Seperti diketahui di budaya lama Indonesia, atau bahkan di agama populer di Indonesia. Ternyata oh ternyata, budaya barat tidak menganggap demikian. Eh bukan budaya barat, tapi mungkin budaya kekinian yang ‘katanya’ modern dan maju.

Gegara award ini, saya jadi ingat pesan salah satu guru lama saya. Kurang lebih dia berpesan, saya harus pintar-pintar mencari benchmark untuk istilah ‘maju’. Sebab, di era sekarang, istilah maju itu sebagian sudah terpelintir bahkan berkebalikan. Yang kesannya kekinian padahal bisa aja sangat kuno. Yang kesannya bagus padahal bisa aja jelek. Yang maju? padahal mundur.

Contoh simpelnya kayak cerita tren pasangan muda Jepang beberapa dekade lalu. Trennya adalah suami istri harus sama-sama bekerja, semangat mengejar mimpi bersama, lebih suka tidak punya anak agar produktivitasnya tidak terganggu dan menjaga jenjang karirnya bagus. Sampai akhirnya minimnya manusia usia produktif menjadi salah satu penyebab ‘Japan Lost Decade’ di waktu-waktu sekarang. Barulah orang-orang menganggap tren itu buruk.

Contoh lain juga Korea Selatan. Yang industri hiburannya dipuji-puji karena berhasil mendunia dalam waktu singkat. Banyak yang tampil bahagia dan cantik di depan layar. Begitu juga di dunia industri pekerjaan. Yang pekerjanya sangat ulet dan rajin. Tapi di balik semuanya, banyak yang akhirnya bunuh diri karena tertekan sana sini. Barulah orang-orang berpikir ulang definisi persaingan kerja yang membangun.

Contoh lainnya juga cerita saya satu ini. Minggu lalu ada sesi sharing tentang Teknologi Perikanan di Asia Pasifik. Kebetulan saya jadi moderatornya. Selama sesi belangsung, saya sudah menyimpan pertanyaan yang siap dilempar nanti ke pembicara. Pertanyaan ini sebenarnya lebih ke rasa bingung yang selalu bikin penasaran. Rasa bingung itu adalah ‘kenapa nelayan Indonesia masih pada pakai kapal kayu kecil dan alat tangkap tradisional’?

Ada yang tau kira-kira jawabannya apa?

Sebelum dijawab sama pembicara di seminar itu, sebenarnya saya pernah punya jawaban dari teman saya. Dia dapat jawaban dari Kementerian Perikanan. Katanya, alasannya adalah karena itu semua warisan leluhur yang patut dilestarikan sampai sekarang. Bukannya puas, saya jadi malah semakin bingung.

Di sesi sharing kali itu, yang kebetulan diisi oleh praktisi langsung, bisa menjadi kesempatan. Praktisi itu akhirnya memberi jawaban, beliau ternyata mengiyakan pernyataan teman saya. Dia juga menambahkan bahwa alasannya juga karena kita sangat menghargai keseimbangan alam. Kalau ikan langsung banyak diambil dalam satu waktu, bisa-bisa ikannya akan punah di daerah tersebut. Alhasil nelayan jadi perlu melaut lebih jauh lagi. Kalau masih terus ditangkap besar-besaran, bisa-bisa nelayannya jadi perlu melaut hingga ke perbatasan-perbatasan negara lain. Kalau sedang kepepet ekonomi, bisa-bisa nelayannya jadi tergoda sampai mencuri di wilayah negara lain. Begitulah yang kebanyakan terjadi di negara-negara besar di sebelah utara kita sana. Secara tidak langsung, ini memberi pemahaman baru ke saya kalau ada kebaikan yang terjaga di balik hal-hal tradisional.

Kalau dipikir-pikir, sering banget Indonesia kerap tampil sederhana dan terkesan tidak maju. Dari segi sosial maupun industri. Padahal kalau dipikir, itu tidak ada salahnya. Kita hanya sedang berusaha memegang budaya leluhur yang mulia. Dan tentu bertahan agar tidak keluar dari garis norma kehidupan.

Bukan begitu Budak Angon?

Leave a Reply