Sebut saja itu masa-masa kegelapan di masa keemasannya. Saat namanya hanya dikenal dengan satu kata, antara Fayed di kehidupan nyata dan Darkfay di kehidupan lain. Keduanya memiliki arti yang berlawanan. Entah bagaimana, bodohnya, nama yang artinya buruk itu bisa muncul. Hampir! hampir ketenaran nama Darkfay menutupi benderangnya nama Fayed.

Ini tulisan apa sih!? Tentang masa lalu, jawab dia lucu.

Waktu itu, zamannya putih abu-abu. Ansosnya Fayed bukan main. Tidak satupun eskul ada yang diikuti. Temannya bisa dihitung jari, eh gak sesedih itu sih. Temannya ya paling yang pernah sekelas atau yang semasjid atau yang satu hobi. Apa itu hobinya? jawabannya adalah main DotA.

Bagi kalian yang tidak tahu, DotA itu adalah sebuah game. Hanya ada di komputer. Dia tidak tahu kapan persis game ini dibuat, tapi yang pasti sejak dia SD game ini sudah ada. Keberadaannya bahaya banget bagi anak muda, bahkan orang tua sekalipun. Sebenarnya orang tua dia sudah sadar akan itu dari dulu, tapi anaknya tetap dibiarkan mengeksplor dan main. Wong, bermain komputernya di rumah kok, pasti gak akan aneh-aneh. Tapi DotA ini berbeda. Kenapa? Karena game ini mainnya Local Area Network (LAN) atau bahasa mudahnya harus terkonek dengan komputer-komputer lain dengan internet ataupun sekedar kabel. DotA bukan game yang bisa dimainkan sendiri, setidaknya butuh 10 orang supaya keseruannya semakin terasa. Di situlah Fayed pertama kalinya bermain ‘game online’ di warnet dan tebak, ternyata dia masih kelas 5 SD.

Seminggu bermain di warnet tidak ada masalah, sampai akhirnya orang tuanya memergoki karena pulang sekolah kok selalu bau rokok. Bukan dia yang ngerokok, tapi orang-orang memang kalau di warnet itu enaknya main sambil makan mie goreng + rokok. Dia dimarahin bukan karena main gamenya, tetapi kenapa mainnya di warnet. Jangan sampai dia ikut-ikutan kebiasaan itu, kata orang tuanya khawatir. Akhirnya hati dia mengalah, tapi tidak dengan otak dia haha. Dia kembali lagi ke warnet, kali ini datang ke warnet yang ber-AC, tidak apa sedikit mahal yang penting main seru dan gak akan bikin bau rokok.

Saat itu DotA bukan hanya satu-satunya game online yang populer. Tapi ya itu, masih belum ada yang mengalahkan sensasi bermain DotA. Sampai akhirnya mulai dari SMP tidak ada satupun game yang betah dimainkan kecuali DotA, eh bahkan sampai sekarang.

Sebelum masuk SMA, hidup Fayed isinya DotA terus. Padahal belajarnya di sekolah artis, sebutannya Sekoetoe (cari tau sendiri artinya). Belajar di sana bukan karena sekolah itu prestasinya banyak tapi karena memang lokasinya strategis saja. Di sinilah Darkfay ketemu Faris yang kemudian sering muncul di blog ini, dan teman-teman seru lain tentunya. Menjelang tryout ujian akhir, mereka tetap main ke warnet. Menjelang UN pun masih tetap main ke warnet. Syukurnya nilai Fayed masih lumayan, tapi anehnya Faris malah jadi pemilik nilai UN tertinggi satu angkatan. Brengs*k memang, sesuai dengan nama blognya. Yasudah Fayed semakin hari semakin tenggelam dalam candu DotA.

Tahun pertama SMA datang, rasanya kenalan dengan orang hanya menghabiskan tenaga. Biarkan saya tetap bermain, pikir dia waktu itu. Tapi mau main gimana juga, entah kenapa orang-orang tetap kenal Fayed. Suatu ketika ada lomba DotA antar SMA se-Jabodetabek. Ikutlah dia dan tim. Pertama kali main, ketemu tim Faris Brengs*k. Kalah. Sial. Enam bulan kemudian ada lomba lagi. Ikutlah dia dan tim. Pertama main langsung ketemu tim Faris lagi, tapi sekarang gak ada Farisnya. Menang, haha. Ehh kok keterusan terus menangnya. Pulang-pulang dia bawa piala juara 2. Di situlah nama ‘Darkfay’–sebagai inisial dia di game–pertama kali mulai berdengung (berlebihan sih ini).

Masa-masa kelas 12 tiba. Nama Darkfay semakin menjadi-jadi. Bermain terus tanpa kenal lelah. Sampai suatu ketika… rasa cinta tiba. pret. Ya tiba-tiba dia dekat dengan perempuan. Anehnya manfaat yang dia dapat bisa dibilang lebih banyak daripada mudhrotnya karena di situlah Darkfay jadi berhenti bermain DotA. Untuk pertama kalinya! karena perempuan! luar biasa memang, perempuan sihir!

Teman sepermainan langsung heboh, ngapain Darkfay pensiun main game cuman karena perempuan, ledek mereka. ‘Teman Perempuan’ nya tidak terima dan justru membela. Adu argumen lah mereka di mading SMA dengan nama samaran ala-ala. Darkfay cuman bisa nyengir cengengesan.

Di waktu-waktu itu, entah bagaimana, ‘Teman Perempuan’ Darkfay membuat dirinya rindu menjadi Fayed seutuhnya. Cukuplah Darkfay menghabiskan waktu berharganya selama bertahun-tahun. Kini sudah saatnya membangun pondasi mimpi kecil, setidaknya untuk mau kuliah apa dan di mana. Jeder! Tiba-tiba dia diputusin. Kembali lagi lah status ‘Teman Perempuan’ nya sebagai teman perempuan biasa. Sedih. Bingung. Ujungnya dia kembali lagi ke DotA untuk beberapa hari. Tapi sekarang dia jadi cepat bosan main. Lalu mulai sedikit berhenti dan sedikit bersyukur. Lalu semakin banyak bersyukur. Akhirnya sangat-sangat bersyukur. Hilanglah Darkfay, untuk sementara.

Walaupun hilangnya hanya sementara tapi setidaknya untuk selamanya. Darkfay memang berubah jadi Fayed saat mau lulus SMA. Tapi dia langsung berubah lagi menjadi Darkfay setelah tahu diterima di kampus impiannya. Terus berubah lagi jadi Fayed setelah ketemu pelajaran kalkulus. Tapi berubah lagi jadi Darkfay setelah lulus mata kuliah kalkulus. Berubah-berubahnya semakin menjadi-jadi. Namun ketidakkonsistenannya justru memberikan dia cara untuk bisa mengatur diri. Kapan harus menjadi Fayed, kapan harus menjadi Darkfay, semua jadi bisa diatur.

Akhirnya terjadilah dua tahun perkuliahan dan kemahasiswaannya yang kacau berantakan karena tidak mau sepenuhnya memutuskan menjadi satu pribadi.

Teorinya, begitu juga dengan orang yang selalu terbolak-balik hatinya. Yang terkadang taubat, terkadang maksiat. Lama kelamaan dirinya jadi merasa mampu mengaturbalikan hati dengan sendirinya. Tanpa sadar, justru kemudahan diri membolak-balikan hati itu adalah bagian dari sisi hati yang gelap.

Gelap seperti orang munafik.