Bukan Tahun Perencana

Kecewa sudah. Terutama para perencana di luar sana. Di tahun yang mana dua angka disandingkan, pasti banyak yang bermimpi bikin ini-itu dan melakukan ini-itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga seluruh dunia.

Mari kita lihat. Naik Haji 2020, dilarang. Mudik 2020, dianjurkan tak dilaksanakan. Tokyo Olympic 2020, ditunda setahun. Dubai Expo 2020, terancam gagal. Launching PS 5, XBOX Series X, dan signature product mancanegara kehilangan momentum. Eurovision 2020 dan segala kompetisi olahraga lainnya di tahun ini terhenti. Bahkan kampus-kampus ternama menunda penerimaan mahasiswa baru tahun 2020.

Itu baru sebagian. Saya yakin tidak akan sedikit acara tahunan, acara 5 tahunan, bahkan acara 100 tahunan yang kini perencananya bingung bukan kepayang.

Lalu saya jadi teringat tulisan sendiri–Hidup di Atas Kertas–setahun lalu, tentu sebelum korona menjadi pandemik. Kala itu saya mengingatkan diri sendiri “Ada kalanya life planner mengalah untuk hidup di luar rencana sendiri. Terlebih kalau The Best Planner sudah menawarkan yang lain.”

Syukurlah, modal itu sudah cukup tertanam. Sekarang tinggal memanen hikmah-hikmahnya saja. Tidak sengaja, saya juga menemukan tulisan menarik dari ulama asal Zimbabwe yang lebih dikenal dengan nama Mufti Menk. Beliau menyebarkannya lewat Instagram, katanya begini;

We’re living in testing times. Isn’t it amazing how man is always making plans for his life. Some of us have even made plans for the entire year! In one fell swoop, the Almighty has shown the world His Prowess. Plans have had to be changed, adjusted or even cancelled!

Huh In one fell swoop, katanya. Semua perencana di dunia ini menjadi kalah dan tak layak meninggikan diri lagi.

Terlepas itu semua, ternyata ada baiknya juga Korona ini datang. Bumi dan alam sebentar menghela nafas lega. Para insan yang sibuk kembali punya nikmat waktu luang untuk merenungi hidup sekali lagi. Orang tua dan anak bertemu, semakin terasa lubang-lubang masalah yang mungkin selama ini samar. Terlihat mana pemimpin yang anyar dan mana yang ambyar. Kesehatan semakin dijaga. Kepekaan sosial semakin terbangun. Solidaritas sedunia mulai tersimpul. Hingga perindu kematian jadi punya ajang lomba untuk berjihad.

Begitulah tiga bulan pertama tahun 2020 ini, penuh suka dan duka. Mungkin di awal tahun, ada terkabulnya doa anak yang rindu akan ayah dan ibunya yang sibuk kerja. Atau jangan-jangan ada terkabulnya doa manusia yang seambisi dengan Thanos. ehe

Leave a Reply