Hidup 14 Peran

Setelah bertanya, Fayed habis lulus mau ngapain? ada pertanyaan lain, terus seluruh pelajaran sosial dan mimpi inspirasi Indonesia-nya mau dikemanain? Mungkin dalam pikirannya, sedikit sayang kalau ujungnya Fayed hanya bekerja dan menghabiskan hidup di konsultan.

“Dunia kerja itu beda yed, tidak ada sosial-sosialnya sama sekali. Semua akan tentang bisnis. Terinspirasi untuk menginspirasi juga kayaknya tidak bisa diterapkan di sana, ya gak sih?”

Well, lagi, Fayed punya opini yang berbeda, cara berpikir sendiri, dan pendekatan lain kalau membicarakan “menginspirasi Indonesia”. Jadi ini ceritanya.

~~

Semua berawal saat seorang mentor hidup Fayed memaksa dirinya untuk membaca buku “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” karya Ust. Salim AF. Dicari dan dibaca lah buku itu. Inti dari bukunya adalah bahan pengingat bahwa menjadi Muslim itu bukan hanya tentang orang yang menjalani ritual beribadah melainkan juga menjadi sosok manusia yang unggul. Terdapat satu bab yang isinya sangat nyes meresap ke lubuk hati, yaitu bab Celupan Warna Ilahi. Pada bab itu, Ust. Salim mengingatkan bahwasannya agama tidak menuntut kita untuk menghilangkan keunikan dan sifat khusus yang telah ada pada diri sebelumnya. Justru akan menjadi indah di saat berbagai ‘warna’ ini menyatu ke satu ikatan dalam menjaga amalan wajib dan sunnahnya.

Dihayati perlahan-lahan tiap halamannya, buku ini semakin terasa spesial sekali. Terlebih sampai akhirnya memberikan pandangan baru akan hidup. Jadi begini, ada bagian bab lain yang menjelaskan penyesalan Ust. Salim di saat mengkritik karya “Ayat-Ayat Cinta”. Ust. Salim mengatakan di depan publik dan secara langsung kepada Ust. Habiburahman (penulis AAC) bahwa sosok Fahri di ceritanya sangat tidak realistis. Dalam benaknya dulu, mana mungkin ada sosok yang ganteng, sholeh, sabar, pintar, dermawan, kaya, dan punya berbagai sifat baik lainnya. Apalagi kita tahu di Ayat-Ayat Cinta 2, diceritakan Fahri ini telah menjadi dosen di Edinburgh, sekaligus pengusaha sukses, dan juga penghafal Quran. Tidak realistis katanya. Nah Ust. Habiburahman yang menerima kritik saat itu justru hanya tersenyum.

Beberapa waktu kemudian, seiring dengan pendewasaan sang pembelajar, Ust. Salim menjadi sangat menyesal atas ucapannya setelah mengetahui fakta mengejutkan. Dia meminta maaf khusus kepada Ust. Habiburahman lewat buku yang aku baca itu, dan bercerita kepada para pembaca bahwa ternyata sosok seperti Fahri itu sangat-sangat realistis! Justru cerita sosok seperti Fahri lah yang sedang dibutuhkan oleh orang Indonesia.

Taukah kita, bahwa banyak sosok seperti Fahri ini di luar sana? Sosok yang sebagian dari kita mengatakan terlalu sempurna, tapi sebenarnya sangat wajar di negeri orang lain. Lagi pula apa salahnya Fahri berusaha terus memaksimalkan kebaikan dan potensi diri? Kan memang seorang Muslim sudah sewajarnya terus berusaha mengikuti ajaran Rasulnya. Muhammad ﷺ nama Rasulnya, mulia dan penuh dengan suri tauladan. Manusia yang tidak hanya bijaksana, melainkan juga merupakan pembisnis handal, panglima perang, pemimpin umat, ayah bagi keluarganya, penyantun kaum fakir miskin, pembelajar dan pengajar, serta hamba yang loyal terhadap penciptanya.

Justru Fahri di Ayat-Ayat Cinta hadir untuk mengisi kekosongan sosok inspiratif di layar kita. Katanya, layar Indonesia sudah terlalu banyak dipenuhi dengan kotornya tokoh politis, artis yang gak etis, dan manusia dengan kualitas kempis. Akhirnya menjadi sangat aneh kalau ada manusia yang seluar-biasa Fahri.

Padahal, andaikan orang-orang Indonesia familiar dan membuat acuan tokoh sukses mereka dengan manusia minimal sekelas Fahri. Mungkin saja nanti tiap orang saat ditanya cita-citanya apa, mereka akan menjawab “Aku ingin menjadi seorang dokter, yang punya rumah sakit gratis, juga punya pesantren yang fokus dengan ilmu medis, dan yang mendirikan perusahaan startup biomedis.” Atau misalkan “ingin menjadi insinyur teknik kelautan, juga bos properti yang memiliki komunitas inspirasi untuk Indonesia, penulis buku dan tempat bertanya untuk anak-anak muda, pemilik yayasan yatim piatu, dan mengabdikan diri untuk terakhir kalinya menjadi pemimpin negeri minimal sekelas ketua RT.”

Get it? Ya aku juga malu saat sadar. Jadi sekarang bisakah kita membuat tren baru di Indonesia? Menginspirasi Indonesia dengan menjadi sebuah sosok? Yang karir utamanya tidak menghalangi untuk menjadi sosok diri lainnya. Menjadi konsultan tidak menghalangi diri menjadi penulis. Dicap Ustad maka tidak berarti dilarang menjadi budayawan. Memiliki yayasan sosial padahal seorang pilot. Kerjaannya Ibu rumah tangga sekaligus pengusaha anyar.

Carilah nama-nama ini; Budi Soehardi, Sutanto Sastraredja, Prof. Hendra Gunawan, Erie Sudewo, Nurhayati Subakat. Itu barulah lima manusia gila, dari banyaknya manusia yang menembus batas normal manusia Indonesia zaman sekarang.

~~

Oh betapa singkatnya hidup ini, pasti akan sayang sekali jika hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja. Karena pasti seru jikalau kita menjadi manusia yang bermimpi dan berusaha untuk menjalani 14 peran sekaligus. Apalagi, bukannya memang Tuhan menantang hambanya demikian?

Leave a Reply