Ku tunggu dia di tengah jalan kecil kampoeng Jakarta. Di jalan ini memang tidak banyak yg berlalu-lalang. Tapi selang dua rumah besar, jalanan nasional ada di sebrang sana. Ku tak perlu lama menunggu, tas gemblok dia telah muncul, menutupi dirinya yang mungil. Dengan senyuman sehari-harinya, dia seakan berbicara ”ayo pulang”.

Aku pun berdiri menyambut menghampiri. Refleks, langsung ku goyangkan tas gembloknya dari belakang. Tentu dengan maksud ngeledek bercanda.

”kenapa? Ku kayak adek kecil kamu ya?” tanya dia.
”loh baru aja ku pengen ngomong sesuatu” jawabku.
”apa gitu?” tanya lagi dia.
”iya, baru pengen ngomong kamu emang lebih cocok jadi kayak adekku aja” dengan tawa ku menjawab.
Dia pun tersenyum lagi, ”iya boleh, gapapa.”

Obrolannya terjadi sangat singkat. Tidak ada yg diperdebatkan. Karena awalnya pun, kami tidak lebih hanya sebagai teman dekat. Tapi momen ini cukup membuat diri merasa berbeda. Sudah lama kami tidak seperti ini. Ngobrol, bercanda, ngelantur. Dua sejoli yang prinsipnya selalu berusaha menikmati hidup, namun sempat dibuat terpuruk sulit saat ingin menyeriusi hidup.

Kami berdua jalan berdampingan menyisiri jalanan kampoeng. Sesekali ku rangkul pundaknya, atas kepalanya. dan tas nya lagi juga. Ya karena saat ini, memang tangkanku semudah itu untuk melakukannya. Kami sangat menikmati momennya berdua walau hanya dengan berjalan kaki.

Di sore itu, angin memang lagi terasa berganti arah. Yang maka tak lama lagi warna langit baru akan segera datang. Suara bising pun mulai saut-sautan, seakan merayakan tibanya sore akhir pekan.

”Dari tadi banyak suara ambulans ya? Banyak yang mati kayaknya.” dia mulai lagi obrolannya.
”Iya, dari tadi ku jalan ke kesini juga banyak yang diangkut ke ambulans.” jawabku. “Btw kamu pernah kepikiran sesuatu ga kalo tetiba ku mati muda?” ku tambah dengan sebuah pertanyaan asal.

Tapi bukannya dia menjawab, justru aku yang kembali bertanya-tanya dengan pertanyaan sendiri. Memang sebenarnya, bagaimana kalau akhirnya ku mati muda?

Aku pun tetiba terbangun dari tidur. Ku tengok kanan-kiri. ”loh, ini sudah di rumah.” Sontak kaget setelah tau jarum jam juga sudah mengarah hampir ke jam 5 lewat. Bergegas ku kamar belakang melanjutkan apa yang seharusnya dilanjutkan.

Maka kini aku telah kembali sendiri.

Momen dalam mimpi masih terasa begitu hangat. Rasa tenang dan bahagianya pun tidak terlewat. Ya tak apa, mungkin itulah sedikit nikmat. Sebagai pesan dari Tuhan ke hambanya untuk tetap semangat. Agar yang lalu, sudah biarlah lewat. Dan jangan terlalu diingat-ingat. Karena ada masa depan diri yang perlu dirawat.

~~

Bukan apa-apa, lagi latihan ngarang cerpen alay aja.