Membunuh Jakarta 101

Ya ampun, udara Bandung nikmat banget. Seger-seger gimana gitu. Padahal udah 4 tahun di sini, tapi sekarang terasa beda aja. Apa karena sudah terlalu lama di Jakarta? Yang udaranya toksik. Yang langitnya selalu abu-abu. Yang pepohonan pun tidak kelihatan menyegarkan. Loh berarti gampang sekali ya Tuhan membunuh kota ini. Tinggal melakukan 1 hal. Semua akan kewalahan sendirinya, apakah itu?

~~

Ini Jakarta atau Apa? Foto dari Twitter.
Abu-Abu Semua. Foto dari Vice.

Seharusnya biasa saja sih terkait polusi ini. Soalnya sudah standar. Banyak daerah di luar sana yang juga lagi mengalami hal serupa. Tidak terlepas Kuala Lumpur, Singapore, Riau, Kalimantan, dan daerah-daerah lainnya. Tapi momen yang terjadi di Jakarta ini menumbuhkan sebuah renungan. Ternyata Tuhan tidak perlu mengirimkan banjir, tsunami, apalagi gempa untuk menghukum kampoeng tempat ku lahir.

Jadi sumber polusi di sini memang banyak. Pasti tidak akan jauh-jauh dari emisi kendaraan bermotor dan limbah asap industri atau pembangkit listrik. Tapi bisa juga dari gas metananya kandang kambing pas hari kurban, atau terbangnya seluruh debu konstruksi yang memang lagi masif. Seluruh polusi debu asap ini akan pergi ke atas langit kota. Mengumpul dan menggumpal menjadi kesatuan adonan kotor mengambang. Biasanya Tuhan akan menginzinkan angin bertiup. Mendorong seluruh polusi itu ke tempat yang lebih tinggi. Ke Gunung yang hijau. Supaya berubah menjadi yang lain. Lalu langit akan segera diisi dengan awan yang membawa air hujan segar. Awan yang hadir atas izin-Nya.

Itupun kalau diizinkan.
Tapi kalau tidak diizinkan maka “menghentikan tiupan angin di atas kota ini” adalah cara membunuh kampoeng tempat kelahiranku.

Sekarang, begitulah yang terjadi di Jakarta. Angin bertiup sangat lambat. Terlalu lambat untuk mendorong seluruh polusi itu. Akhirnya pemandangan langit abu menjadi konsumsi sehari-hari. Menjadikan aktivitas bernafas sebagai kewajiban yang terpaksa dijalani. Terlebih, kota ini tidak mempunyai cukup banyak hutan kota untuk menahan microdust sebelum hujan datang menyapu. Debu yang tak sengaja masuk ke hidung, mengundang rasa naik pitam sendiri. Tak jarang permasalahan sepele menjadi ruwet karena langit memang tak kalah terlihat ruwet. Kalau sudah begini apa yang mau dipandang untuk menghibur diri.

Eh walau begitu, anehnya, masih ada saja yang betah tinggal di sini. Semoga oh semoga, alasannya bukan karena ingin gotong-royong dalam membunuh kampoengku.

Leave a Reply