Surat Perintis Ekspedisi

surat lama

Aku teringat sore itu di saat Jembatan Pasopati meneduhkan kami dari hujan rintik Bandung, Kami adalah orang-orang Kementrian Relakan Kabinet Suarasa ITB yang sedang bersilaturahmi sambil menunggu waktu magrib tiba. Di tengah perbincangan, HP ini tiba-tiba berdering dan menunjukan layar telepon masuk dari Isma, teman kepanitiaanku di awal tahun 2017. Semua ucapan darinya terasa sangat tiba-tiba dan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Karena saat itulah dia pertama kali memperkenalkan program Ekspedisi Nusantara Jaya kepadaku dan aku tiada henti menjawab “mau ikut!” setelah tiap kalimat keluar darinya.

Untuk kalian yang juga belum tahu apa itu Ekspedisi Nusantara Jaya, sepertinya boleh untuk aku ceritakan sedikit. Program yang biasa disingkat sebagai ENJ ini adalah acara tahunan dari Kemenkoan Kemaritiman Republik Indonesia. Sudah tiga tahun acara ini dilaksanakan termasuk tahun ini. Negara mengundang orang-orang umum, pemuda SMA dan  mahasiswa untuk menjadi bagian dari petualangan dan pengabdian ke pulau-pulau terluar ataupun terpencil di Indonesia. Kita dijadikan perancang acara secara keseluruhan dan negara sebagai pembantu dan pendukung pendanaan.

Singkat cerita dan dengan rasa syukur, perjuangan dan persiapan diriku akan ekspedisi ini terbuahkan hasil. Diriku akhirnya dipertemukan dengan dua puluh enam mahasiswa ITB dari lintas angkatan dan jurusan. Walaupun sebenarnya dalam proses pertama kali ku mendaftar hingga hari minus satu keberangkatan semuanya tampak abu dan tidak jelas, tetapi nyatanya semua anggota tim ekspedisi ITB ini masih tetap bertekad dan semangat untuk terus melanjutkan ekspedisi. Mereka adalah Fadli (MK 18), Pandu (MS 15), Satria ( TL 15), Ka Ais (BW 14), Bang Andre (TG 14), Antal (KL 16), Zalza (KL 16), ka Dhany (TL 13), Isma (PL 15), Kevin (MK 18), ka Mila (KL 13), ka Pale (TM 14), Amsyari (SI 16), ka Hardian (KI 14), Rian (GD 15), bang Rafid (TA 13), Slam (TG 16), Sidik (SA 16), ka Aya (BA 14), teh Sofia (BA 13), Sonny (GD 15), ka Ute (BW 14), ka Wahyu (EP 13), ka Yul (PL 14), ka Yongky (EL 13), dan terakhir diriku Fayed (KL 15).

Tim Ekspedisi ENJ ITB 2017

Kami meniatkan diri untuk mengabdi ke Pulau Marabatuan, Kalimantan Selatan sejak tanggal 4 hingga 17 Agustus 2017. Alasannya kenapa ke Pulau Marabatuan? aku masih tidak begitu yakin sampai sekarang. Tapi sepertinya karena memang pulau ini jarang dilirik dari luar dan tapi masih dapat terjangkau oleh kami yang dari Bandung. Berdasarkan informasi yang didapat, pulaunya memang seterpencil itu bahkan sinyal hp hampir tidak ada. Akses untuk ke pulau itu juga hanya ada Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 & 55 serta kapal nelayan yang sepertinya hampir imposibble dipilih.

Kapal Perintis Sabuk Nusantara 57 ini lah yang nanti akan mengantarkan kami ke Pulau Marabatuan. Berangkat dari Pelabuhan Tj. Perak, Surabaya dengan tujuan akhir Kotabaru, Kalimantan Selatan. Pulau Marabatuan adalah destinasi terakhir kedua setelah Pulau Masalembo, Pulau Keramian, dan Pulau Mata Siri, Pulau Maradapan serta sebelum Batu Licin dan Kota Baru. Berdasarkan estimated time of arrival, kapalnya baru akan sampai Pulau Marabatuan setelah 3 hari 2 malam dari Surabaya, Lamanyee. Aku gak begitu kebayang juga awalnya tentang kapal ini, tapi ternyata kapalnya lebih bagus dari dugaanku. Kapan-kapan lah aku cerita tentang kehidupan di kapal sanus ini. Untuk ke Surabaya kami menggunakan Kereta Pasundan. Berangkat dari Stasiun Kiaracondong, Bandung dan turun di Stasiun Gubeng, Surabaya. Di kereta tidak begitu banyak kenangan menarik, tapi Alhamdulillah cukup mengeratkan pertemanan kami sebagai tim.

Bicara tentang tim, jujur persiapan kami tidak begitu terasa banget secara tim, tapi diskusi dan perencanaan apa yang akan kami lakukan sepertinya sudah cukup matang. Buktinya, sekarang, kami sudah bisa sampai di kapal dengan aman, walaupun kita naik kapal saat keberangkatannya 10 menit lagi. Tapi ya itulah yang kadang bikin seru, pengalaman-pengalaman tidak terduga.

Oh iya, misi utama kami nanti adalah untuk memperkenalkan potensi kemaritiman Indonesia dan informasi pekuliahan serta pencarian data & informasi di bidang pendidikan, kesehatan, kebudayaan, ekonomi, sosial kemasyarakatan dan pariwisata. Kami juga sudah sepakat untuk tidak “mengajarkan” mereka tapi lebih ke “belajar” dari mereka, serta tidak “memaksa” kuliah tapi lebih ke “mengajak yang mau” kuliah. Pengalaman mengajarku di Skhole juga kuharap bisa berguna nantinya, entah apakah anak-anak di sana akan sama seperti biasa anak yang kuajar atau tidak, lihat saja nanti.

~~

Waktu itu tanggal 3 Agustus, kami dilepas oleh pak Sonny, dari pihak LK dan pak Hendar, dari pihak kemenkoan. Ada juga kak Ardhy yang memberi sambutan selaku perwakilan Kabinet KM ITB. Kak Ardhy bicara tentang Nusantara, pak Sonny bicara tentang keselamatan kita,dan pak Hendar terus mengingatkan kalau ekspedisi ini harus bisa mencerdaskan ekspeditor dan masyarakat tentang kemaritiman. Baru sambutan saja sudah banyak inspirasi yang didapat, apalagi nanti, pikirku.

Waktu itu tanggal 4 Agustus, kami hampir seluruh tim segerbong kereta antusias untuk saling berbagi hal tentang pernikahan, pengabdian masyarakat, Skhole, Gebrak, Satoe Indonesia, ilmu fotografi, ilmu sosial, dll. Baru di kereta aja udah banyak inspirasi yang didapat, apalagi nanti, pikirku.

Sekarang tanggal 5 Agustus, kami semua sedang duduk di kapal. Menunggu bahtera ini berlayar menjauhi pulau Jawa dan mengantarkan kami ke pulau yang katanya sangat mendewakan pulau Jawa. Sambil menatap ke luasnya laut, jingganya langit, kabutnya Madura, dan wajah-wajah bimbang teman-temanku, diriku berharap untuk bisa nanggung amanah ini dengan baik dan kembali dengan sejuta inspirasi yang patut diceritakan.

Jingga Langit Laut Jawa

Diriku sudah tidak sabar untuk menulis apa yang bisa kutulis dan kuharap kalian juga antusias untuk membaca apa yang akan kutulis.
Terakhir, Bismillah, Selamat tinggal Jawa, sampai bertemu lagi.

Sanus 57, Selat Madura, 5 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

Leave a Reply