Frambozen dan Aromanya

Sejak tibanya kami di Pulau Masalembo, Pulau Keramian, Pulau Matasiri, Pulau Maradapan, dan Pulau Marabatuan, ada sesuatu yang berkesan di perjalanan ekspedisi ini, yaitu Frambozen. Untuk kalian yang tidak kenal Frambozen, lebih baik kalian harus mengenalinya sebelum pergi ke gugusan pulau ini, dan bagi yang sudah kenal dengan baik dengan Frambozen, tolong koreksi jikalau diriku ada kesalahan.

Tibanya kami di tempat ekspedisi utama, Pulau Marabatuan, Kami disambut oleh masyarakat lokal. Diriku bersama anggota tim ekspedisi lain dan ditemani anak buah kapal serta kapten, kami diantarkan ke tempat tinggal kami oleh salah seorang warga lokal. Kami tinggal di rumah Pak Hamdi dan bu Lena, di Desa Tengah, Pulau Marabatuan. Kami disambut dengan teh dan beberapa cemilan untuk pertama kalinya. Walau tidak begitu suka teh, aku tidak bisa menolak suguhan pertama kali dari si Ibu. Akhirnya

Kucicipi tehnya Sluuuurp…

Kuhirup aromanya Hmmm…

Kunyinyirkan bibirku yang merasakan kenikmatannya.

Ute mencium aroma teh

Diriku tidak begitu ngefans dengan yang namanya teh, Namun kali ini, minum teh di pulau Marabatuan sangat bersensasi beda. Entah karena tehnya lebih enak atau bagaimana yang pasti lebih baik aja daripada teh-teh yang biasa ku minum selama ini. Sejak saat itu aku sangat ngefans dengan teh nya ibu Lena. Tiap disuguhi teh, sekarang aku selalu menyambutnya dengan semangat.

Keesokan harinya, Kami pun mulai menyebar untuk berkunjung ke Bu Camat, Kepala Desa, rumah-rumah lokal yang dipandang, ataupun rumah lokal orang yang biasa saja. Kak Aya, Kak Aisha, Kak Pale, dan diriku berkunjung ke rumah Pak Ali yang kebetulan rumahnya berada di sebelah kantor kecamatan. Tapi kebetulan pak Alinya sedang melaut dan hanya ada Emak dan anaknya yang masih bocah. Kami berempat berbincang tentang banyak hal sampai akhirnya si emak izin untuk ke dapur dulu. Setelah beberapa menit, Emak balik dengan membawa nampan yang sudah ada gelas-gelas kosong dan teko plastik berisikan teh. Dalam hati ku berpikir, wah ini tehnya akan seenak di bu Lena gak ya? Yasudah karena gak sabar lagi, aku izin menuangkan tehnya dan menyicipi sedikit demi sedikit. Ternyata oh ternyata, teh nya lebih enak dan lebih harum daripada yang biasa dibuat bu Lena. Kami berempat pun juga sepakat bahwa teh ini sedaap kali. Karena rasa penasaran, kami memberanikan dirilah untuk bertanya resep dibalik kenikmatan tehnya.

“Ramboseng.. tehnya dicampur Ramboseng” Kata si Emak setelah kami tanya. “Semua orang di Marabatuan suka pake Ramboseng,” tambah Emak. Kami bingung Ramboseng tuh apa, tapi kami tetap menahan rasa penasaran kami untuk saat itu. Selain tehnya, si Emak dan kami juga membicarakan tentang “Jepa”, makanan olahan singkong seperti pelapis krepes atau kebab ini telah menjadi makanan khas di Pulau Marabatuan. Kali ini kak Aya sangat penasaran dengan Jepa dan akhirnya dia minta Emak untuk menunjuki cara membuatnya. Akhirnya si Emak mengajak kami ke dapurnya untuk melihat pembuatan Jepa. Memanfaatkan momen ini, akhirnya kutanya pula juga terkait Ramboseng tadi, sebenarnya Ramboseng itu kayak gimana.

Setelah menjelaskan tentang Jepa, si Emak pun mengeluarkan botol kecil dari rak tuanya yang ternyata botol Ramboseng. Ramboseng ternyata berbentuk cairan yang disimpan di botol kecil layaknya botol parfum haji. Sayang, Rambosengnya sudah habis, tapi aku masih bisa mencium aromanya teh yang kuminum dari botolnya. Rasa penasaran kami pun terjawab dan akhirnya kami pamit setelah beberapa saat.

Ramboseng di dapur Emak

Foto dengan teh Emak

~~

Berhari-hari kami jalani ekspedisi. Tiap pagi, siang, sore, dan malam ku sempatkan minum teh yang selalu disediakan bu Lena di rumah. Sampai-sampai semua orang di rumah tau kalo aku ketagihan tehnya. Aku menyebutnya sebagai Teh Ganja.

Dengan niat mau membawa oleh-oleh Ramboseng ke Bandung, akhirnya saat bu Lena ingin pergi ke pasar, aku nitip untuk dibelikan Ramboseng. Untuk sebotol hanya Rp 3000 ternyata. Yaudah berhubung harganya tidak begitu mahal akhirnya aku menitip 20 botol.

Kurang dari setengah hari, Bu Lena akhirnya kembali lagi ke rumah dengan membawa barang-barang dari pasar. Tapi saat itu diriku masih di luar mencari data. Sesampainya diriku di rumah, semua orang tampak nyinyir ke diriku dan ketawa-ketawa kecil. “Yed Rambosengnya udah ada tuh, ada di plastik kuning, tapi coba jangan lupa liat komposisinya.” Kata salah satu temanku. Lah aku dibilang gitu jadi mikir macem-macem, wah ada apaan emang komposisinya. Kucari dan kubuka lah kresek kuning basah di pojokan itu. Wah ternyata Rambosengnya bewarna merah pekat kayak marjan stroberi. Tulisan Ramboseng juga ternyata tidak seperti cara bacanya, aslinya bertuliskan Frambozen. Logat Mandar dan Bugis lah yang bikin jadi ada “eng” di bagian akhirnya. Kuputar-putar botolnya untuk mencari label komposisi, tulisannya tidak begitu besar dan tidak begitu kecil, tapi yang pertama kali kulihat adalah “Mengandung Alkohol”. Matilah diriku!!. Kubaca lagi dengan teliti ternyata Frambozen mengandung kurang lebih 95% Etanol dan 65% Alkohol dan bahan lainnya. TAMBAH MATILAH DIRIKU!

Awalnya tidak percaya sama sekali, lah mana mungkin bu Lena yang orang Islam serta orang-orang Marabatuan yang semuanya juga orang Islam suka pake Frambozen. Akhirnya juga masih tidak percaya sih.

Setelah kami semua tau bahan Frambozen sebenarnya, kami meminta bu Lena untuk tidak pernah menambahkannya lagi ke minuman kami. Ya ternyata rasa tehnya tidak terlalu istimewa kalau tidak ditambahkan Frambozen. Keesokan harinya pun kami lanjut pulang ke Pulau Matasiri dan Pulau Keramian. Ternyata oh ternyata, di pulau-pulau sekitaran lainnya juga hobi menambahkan Frambozen ke minuman dan makanannya. Di bukit Pulau Keramian, kami tidak sengaja memakan martabak yang ada Frambozen warna kuning. Di warung baso di Pulau Masalembo, kami juga menemukan es campur yang aromanya sangat khas seperti Frambozen. Karena masih bingung dan keheranan kenapa orang-orang di sini masih suka menggunakannya, akhirnya aku berasumsi sampai sekarang kalau Frambozen masih halal-halal saja dan tetap membawa Frambozen yang telah kubeli di Pulau Marabatuan untuk ke Bandung. Walaupun sebenarnya ada rasa khawatir banget, tapi kayaknya nanti aku coba tanyakan ke orang yang paham dulu. Di sini tidak ada sinyal internet soalnya makanya gak bisa nanya langsung lewat Line atau Whatsapp.

~~

Nah untuk kalian yang sekiranya mau berkunjung ke gugusan pulau ini; Pulau Masalembo, Pulau Keramian, Pulau Maradapan, Pulau Matasiri, Pulau Marabatuan, dan sekitarnya, lebih baik hati-hati. Kalau kalian menganggap enteng yasudah bertingkah seperti biasa aja, tapi kalau kalian benar-benar seketat itu akan kehalalan lebih baik tanya di setiap makanan/minuman yang kalian akan konsumsi di sini karena memang Frambozen ini kayak udah jadi “mecin” alias penyedap rasa yang sudah lumrah di sana.

Biasanya makanan/minuman yang dikasih frambozen ini rasanya enak bangeeet nget! Aromanya sangat menyengat dan itu udah jadi khasnya tersendiri. Harus waspada juga untuk sesuatu yang berkuah merah, kuning, dan orange. Mungkin kalian akan lebih gampang mengenalinya kalau sudah sering minum atau makan dengan sendiri, kayak saya huh.

Surat ini aku tulis setelah Anak Buah Kapal sangat tertarik dengan kisah Frambozen di Marabatuan, akhirnya kuputuskan untuk aku cerita di sini juga.

KP Sabuk Nusantara 57, 15 Agustus 2017

Fayed, Pemimpi Tapi Tidur

1

Leave a Reply